"Dengan tetap memperhatikan hukum & perundang-undangan serta kode etik "posting" yang santun yaitu dengan mencantumkan nara sumber aslinya, kiranya penyebarluasan informasi, pendidikan ataupun perkembangan iptek tidak perlu terhalang semata alasan pranata hukum HaKI, sebagaimana dijamin oleh hukum & peraturan perundang-undangan sebagai bentuk pengecualian (Pasal 15 UU No 19 Tahun 2002)"

Renungan Bulan Ini...

"Tiada yang lebih baik dari dua kebaikan : Beriman pada Allah dan bermanfaat bagi manusia. Tiada yang lebih buruk dari dua kejahatan : Syirik pada Allah dan merugikan manusia" (dari berbagai sumber)

the holy qur'an

Hari Ini Dalam Lintasan Sejarah

Showing posts with label Kontemplasi. Show all posts
Showing posts with label Kontemplasi. Show all posts

Wednesday, March 3, 2010

Memaknai Kesulitan Hidup

Kita semua sudah tahu bahwa tidak ada manusia yang bisa steril dari segala macam kesulitan dalam hidup. Dalam episode tertentu kesulitan pasti menghampiri. Entah kesulitan yang bersumber dari faktor kesehatan, keluarga, ekonomi, pekerjaan, hubungan dengan sesama dan semacamnya. Bahkan orang-orang yang secara materi dan kedudukan tergolong mapan dan berkuasa sekalipun, tetap saja tidak bisa menghindar sama sakali dari kesulitan. Buat orang-orang ini, kesulitan bisa jadi justru bersumber dari harta dan kekuasannya. Karena itu kalau ada orang yang  berharap terbebas dari kesulitan sama sekali di sepanjang hidupnya, maka orang itu laksana berharap matahari terbit di tengah malam buta. Betapa mustahilnya.
Orang-orang yang beriman yang lurus imannya, selalu beruntung dalam menghadapi kesulitan jenis apapun. Keberuntungannya adalah ia bisa memaknai dengan tepat atas setiap kesulitan yang dihadapi. Yaitu bisa menangguk hikmah dari setiap kesulitan yang dihadapi. Kesulitan jenis apapun justru memperkaya pengalaman ruhaniahnya. Kesulitan menjadi semacam suntikan multivitamin bagi jiwanya sehingga makin kuat dan kokoh.
Rahasia orang-orang yang beriman bisa beruntung dalam menghadapi setiap kesulitan adalah dua hal. Pertama, akhlaknya benar. Saat mengalami kesulitan ia berbaik sangka kepada Alloh. Ia yakin bahwa kesulitan apapun, baik yang disebabkan kesalahan sendiri atau tidak, semuanya sama. Sama-sama wujud tanda kasih sayang-Nya kepada dirinya. Kesulitan menjadi media introspeksi diri untuk lebih memperbaiki diri. Ia mencari tahu dalam dirinya, apakah kesulitan itu bagian dari teguran-Nya. Menjadi kaca besar dalam hati dan pikirannya firman-Nya dan sabda Nabi-Nya,” Tidak satupun malapetaka yang menimpa seorang hamba, baik berat maupun ringan, kecuali disebabkan dosa yang dilakukannya. Apa yang telah dimaafkan Alloh darinya itu lebih banyak. Rosul kemudian membaca firman-Nya,” Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Alloh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS : Asy-Syuraa (42) : 30).
Kedua, ilmunya cukup. Ia menguasai referensi tentang kesulitan dalam hidup yang bersumber dari Al Qur’an dan sabda Nabi SAW. Ia tahu apa sebabnya kesulitan itu datang. Ia tahu dari mana kesulitan itu berasal. Tahu untuk apa kesulitan itu datang. Tahu bagaimana cara menyikapi kesulitan dalam hidup. Tahu hikmah rahasia besar dibalik kesulitan buat kebaikan hidupnya di muka bumi dan di akhirat nanti.
Agar kita sama beruntungnya dengan orang-orang yang beriman yang imannya lurus. Maka perlu kita baca referensi dari al Qur’an dan sabda Nabi berikut ini. Berbagai kesulitan dalam hidup kita boleh jadi karena salah satu diantara beberapa hal berikut ini :
1.    Ujian keimanan
Orang-orang yang mengaku beriman kepada Alloh akan diuji pernyataan keimanannya.
” Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Alloh mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS: Al Ankabut (29) : 2 -3).
2.    Saringan untuk masuk surga
”Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Alloh orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS : Ali Imron (3) : 142).
3.    Peringatan
“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Alloh.” (QS : An Nisa’ (4) : 123).
4.    Penghapus dosa.
”Tidak ada satu musibahpun  yang menimpa seorang muslim, baik letih, sakit, kecemasan, kesedihan, pederitaan, duka cita hingga tertusuk duri sekalipun, niscaya dengannya Alloh akan menghapus segala kesalahannya.” (HR. Bukhori : XIX/26)
Ujian senantiasa menyertai seorang mukmin dan mukminah pada jasadnya, hartanya, serta anak-anaknya hingga dia menemui Robbnya dan tidak ada lagi dosa pada dirinya. (HR. Ahmad).
5.    Akan dikaruniai pahala besar.
” Pada hari kiamat kelak, timbangan untuk orang-orang yang mendapatkan musibah akan diberatkan. Demikian timbangan para mujahidin dan sholihin. Pada hari itu orang-orang yang selama di dunia selalu sehat wal afiat sangat ingin mendapatkan ganjaran sebagaimana orang-orang yang ditimpa musibah. Mereka rela seandainya selama di dunia dahulu daging mereka dipotong dengan pisau. (HR. Tirmidzi).
6.    Agar kembali ke jalan Alloh.
Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang sholih dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (QS : Al A’Roof (7) : 168).
Berbaik Sangka
Seberapapun dan seberat apapun kesulitan yang dihadapi ummat Rosululloh SAW, penyikapan terbaik adalah berbaik sangka kepada Alloh. Yakini bahwa segala takdir yang ditetapkan-Nya atas diri kita, sepenuhnya merupakan ungkapan kasih sayang-Nya. Kalaupun terasa berat untuk ditanggung oleh jiwa dan raga kita, pasti jiwa kita sanggup menanggungnya. Jangan biarkan nafsu yang merespon ketentuan-Nya. Istiqomahkan jiwa dalam sabar dan ikhlas atas segala sesuatu yang terjadi atas diri kita. Kewajiban manusiawi manusia adalah seraya memohon pertolongan-Nya, berusaha untuk mencari jalan keluar atas kesulitan yang kita hadapi. Untuk menyejukkah hati kita bisa memasukkan ke dalam hati sebagai hikmah bebarapa hal berikut ini :
1.    Alloh mewahyukan kepada nabi Musa,” Sungguh Alloh tidak akan mengazab kekasih-Nya didunia, melainkan Dia terkadang mengujinya.”
2.    ”Alloh menjadikan azab (peringatan) bagi ummat ini ketika mereka masih di dunia.” (HR. Tabrani).
3.    Ummatku ini adalah ummat yang dikasihi. Mereka tidak akan mendapatkan azab di akhirat kelak. Tapi azab mereka turun ketika hidup di dunia seperti gempa, pembunuhan, dan berbagai penyakit.” (HR. Al Baihaqi).
Lemah Iman
Seberat apapun kesulitan hidup yang menimpa ummat Rosululloh SAW,  pastilah dalam kadar sebatas kemampuan. Alloh menggaransi bahwa apapun keputusan-Nya terukur sesuai dengan kadar kemampuan masing-masing hamba-Nya.
1.    Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya (QS : Al Mu’minuun (23) : 62).
2.    Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (QS : Al Baqoroh (2) : 286).
Karena itu kalau ada orang yang banyak berkeluh kesah dan apalagi berputus asa atas kesulitan yang dihadapi, maka pasti bukan beratnya persoalan yang jadi permasalahan. Tapi penyikapannya yang tidak benar. Yang demikian itu terjadi karena faktor lemahnya iman. Orang-orang yang lemah iman, berfikirnya tidak sampai ke langit. Lebih banyak berkutat di bumi. Kesejahteraan yang diharapkan lebih banyak untuk kehidupan dunianya. Sementara kesejahteraan akhirat mendapat porsi ala kadarnya. Ia tidak berfikir bahwa berbagai kesulitan yang dihadapi dalam hidup merupakan bagian dari skenario-Nya untuk membahagiakan hidupnya di akhirat kelak. Mudah-mudahan tidak ada diantara kita yang termasuk kedalam golongan orang-orang yang lemah iman.
Jangan Berharap  Tidak Repot.
Kalau boleh berbagi, rasanya ingin kita katakan ,” Jangan sampai ada diantara kita yang berharap terbebas sama sekali dari kesulitan hidup. Yang demikian itu merupakan kesalahan terbesar dalam hidup yang bisa berujung pada kebinasaan di akhirat kelak.” Kita bisa mengambil pelajaran dari kisah di jaman Rosul yang dituturkan Abu Hurairah. Baca kisahnya di inbox di bawah ini,”
Setelah membaca kisah itu, kita mesti menjawab pertanyaan berikut ini :
1.    Adakah diantara kita yang berani berharap tanpa kesulitan dalam hidup?
2.    Adakah yang masih akan berkeluh kesah, apalagi berputus asa saat mengalami kesulitan dalam hidup?
3.    Adakah yang masih tidak mau bersabar dan ikhlas atas kesulitan dalam hidup?
Saudaraku, mungkin ada sepenggal episode dalam hidup kita dimana kita lalai. Pernah tidak sabar, banyak berkeluh kesah dan tidak ikhlas saat menghadapi kesulitan dalam hidup.  Mari kita berendah hati memohon ampunan-Nya dengan berdo’a kepada-Nya dengan lafal do’a yang diajarkan-Nya. ” Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” Aamiin…
Wallohua’lam bisshowab.

dikutip dari:
http://priendah.wordpress.com/

"Menikmati" Kesulitan Hidup

Posted by : 
Ahmad Arafat
Jakarta, 29 Juni 2009 [1:42 AM]
http://ahmadarafata.blogspot.com

Sore tadi waktu main ke PIM (Pondok Indah Mall) 1 mampir ke Gramedia...
Setelah searching-searching, nemu buku yang menarik hati...

Judulnya: "The Road Less Travelled", karangan M. Scott Peck, terbitan UFUK Publishing. (Note: gambar di bawah hanya ilustrasi, bukan menggambarkan cover buku yang sebenarnya).


Agak kaget pas liat buku tersebut.
Serasa de javu dengan judulnya, dan juga nama pengarangnya.
saya ingat betul, di sebuah tulisan (karya ilmiah) yang pernah saya buat, ada kutipan perkataan (quote) dari si M. Scott Peck yang dicuplik dari buku yang sama: "The Road Less Travelled". Saat itu quote itu hanya dipakai sebagai pelengkap tulisan dan penutup paragraf aja.

saya kira buku yang dirujuk itu ("The Road Less Travelled", kita singkat aja TRLT biar gampang yaa?) adalah buku serius, berat, dan berbau-bau social-political, secara karya tulis yang waktu itu saya buat bertemakan tentang "Civil Society". Ternyata, pas tadi baca-baca bukunya di Gramedia --setelah melihat langsung rujukan aslinya-- buku ini termasuk kategori PSIKOLOGI.. Wah, saya  paling suka ama buku-buku berkategori Psikologi dengan genre motivasi/inspirasi/refleksi seperti ini...

Buat yakinin diri...saya  coba baca dari depan --setelah saya baca komentar dan pujian di halaman belakang.

Ternyata struktur tulisannya sederhana: buku setebal 416 halaman ini hanya terdiri dari empat bab/bagian saja. Pada bagian pertama yang berjudul "DISIPLIN" terdapat berbagai sub-bagian dengan judul yang bervariasi. Bagian kedua diberi judul "CINTA", serta "PERKEMBANGAN" dan "BERKAH" di urutan ketiga dan pamungkas.

saya langsung buka halaman pertamanya...

Di bab 1 : DISIPLIN, pada sub-bagian pertamanya terpampang judul berikut: "Masalah dan Rasa Sakit". Sampai membaca judul itu belum ada yang spesial. Tapi apa yang tertulis selanjutnya lebih menggugah dan "mencerahkan".

Pada paragraf pertama, yang hanya memiliki satu kalimat, tertulis :

"Hidup itu sulit."

Beuhhh... Disini perasaan dan fikiran saya terhenyak!
Sambil membatin aku berkata: "ini tulisan kok NEGATIVE THINKING amat yaa...kagak salah tuh?"

Namun, mengikuti silogisme dan deskripsi berikutnya dalam tulisan ini membuat aku terkesan dan tak bisa untuk tidak setuju...

Penulis memaparkan dengan lugas bahwasanya seringkali manusia membayangkan bahwa "seolah-olah hidup itu biasanya mudah, seolah-olah hidup itu seharusnya [dijalani dengan] mudah [saja]". Maka ketika hidup kita dihadapkan dengan berbagai masalah --yang menurut penulis "hidup adalah serangkaian masalah"-- otomatis rasa sakitlah yang ditimbulkan... Dan seperti setiap orang normal lainnya, saya dan Anda tentu tidak suka dengan rasa "sakit" ini..

Dari sini, ketika masalah sudah dianggap sebagai "biang rasa sakit", beragam carapun diambil sebagai pelarian terhadap gangguan "rasa sakit" tersebut.. Parahnya, kebanyakan manusia berusaha menghilangkan "rasa sakit" itu (bukan "masalah"nya) dengan cara pandang yang tidak semestinya digunakan. Dan cara pandang seperti ini pada gilirannya membuat hidup menjadi [lebih] sulit. Ini karena cara pandang tersebut meyakini bahwa PROSES menghadapi [maupun dalam rangka "menyelesaikan"] berbagai permasalahan adalah sesuatu yang menyakitkan. Berikutnya yang muncul adalah serangkaian mata-rantai permasalahan-permasalahan baru yang -tentunya- membuat hidup menjadi terasa jauh lebih sulit dan kompleks untuk dijalani.. Depresi, frustasi, kesedihan, kedukaan, kesepian, dan lain sebagainya adalah contoh "efek berantai" dari masalah tersebut.

Jadi, alih-alih untuk menghadapi masalah-hidup dengan berani dan jujur, acapkali kita terjebak pada "jalan singkat" (shortcut) yang membutakan mata [hati dan pikiran]. Dengan berharap bahwa "jalan singkat" itu akan membuat kita "lebih cepat merasa lebih baik", kita pun membenarkan berbagai penyangkalan dan pengingkaran kita terhadap fakta kehidupan yang paling murni: bahwa hidup itu sulit. bahwa hidup tak selamanya indah.

Menurut penulis, fakta "ini adalah sebuah kebenaran luar biasa, dan salah satu kebenaran terbesar [dalam kehidupan umat manusia]. Begitu kita mengakui kebenaran ini, maka sebenarnya kita telah bisa [minimal, menurutku, LEBIH SIAP] mengatasi kesulitan itu. Begitu kita benar-benar memahami dan menerima bahwa hidup itu sulit, maka hidup menjadi lebih mudah untuk dijalani. Sebab, kita telah bisa menerima fakta tersebut sehingga hal itu tidak lagi menjadi masalah".

Namun demikian, kebanyakan orang tidak melihat kebenaran ini secara utuh. Dengan demikian, sebagian besar orang-orang tidak memahami hakikat dari fakta-kehidupan tersebut. Bahwa sesungguhnya "masalah adalah keuntungan menyakitkan yang membedakan antara keberhasilan dan kegagalan" - atau dengan kata lain, menurut bahasa saya sendiri, "masalah adalah mekanisme alami untuk membedakan mana 'pemenang' mana 'pecundang'.. masalah adalah prosedur sejati untuk menentukan siapa saja dari kita yang telah belajar dari [masalah] hidup dan menjadi dewasa serta bijak karenanya".

Memahami konsepsi tersebut di atas tentulah amat sukar bagi mereka yang masih memandang setiap "masalah kehidupan" sebagai sebuah 'masalah' -- yang dalam konteks ini dicirikan dengan adanya symptom/gejala "rasa sakit" (mulai dari bentuknya yang paling ringan, yakni sekedar "keluhan", hingga yang paling akut; depresi, frustasi, paranoid, dst.). Makanya, sejak awal, penulis TRLT telah menyodorkan sebuah pegangan penting untuk memahami dan memecahkan setiap masalah yang mungkin melanda kita. DISIPLIN. Inilah ide pertama dan utama yang dianjurkan oleh penulis pada kita. Penulis ini yakin, bahwa disiplin adalah seperangkat peralatan dasar yang diperlukan untuk mengatasi permasalahan hidup. Tanpa disiplin, jelasnya, kita tidak [akan] dapat memecahkan dan menyelesaikan apapun!

**

Nah, sampai disini saya sejenak mencoba untuk berkontemplasi, mengambil refleksi, dan melakukan sedikit elaborasi...

Terasa sebuah kebenaran universal dari apa yang dikatakan oleh penulis TRLT. Bahwa ia menyatakan "hidup itu sulit", bukanlah sesuatu yang mengejutkan bagi saya... Saya sendiri, sebagaimana juga besar kemungkinan Anda, melalui pengalaman hidup yang spesifik dan unik dari tiap-tiap individu, bisa segera memahami dan menyadari bahwa hidup ini sungguh tidak mudah...

"Cari hidup itu susah, bung!", kata para kernek bus yang sibuk berjuang memeras keringat dan membanting tulang --hampir-hampir dalam arti literal yang sebenarnya-- setiap harinya..

"Cari kerja itu gak gampang jaman sekarang!", ujar para pengangguran lulusan perguruan tinggi yang jumlahnya kian meninggi dewasa ini..

Begitulah, kita dihentakkan dengan berbagai fenomena dan kenyataan di sekitar dan tengah-tengah kita bahwa terlepas dari berbagai "keindahan dan kenikmatan hidup" --yang biasanya hanya dinikmati segelintir kalangan manusia-- hidup ini ternyata menyebalkan! LIFE IS SUCKS!

Tapi tunggu dulu.. kalo memang demikian adanya, lalu apa yang salah???

CARA PANDANG kita lah yang salah, kawan...

Ya, orang-orang yang berakal dan berkeyakinan lurus akan mudah memahami bahwa hidup di dunia -yang sementara ini- hanyalah gemblengan, ujian, dan saringan bagi kita: untuk menentukan sejauh mana kita bisa memeroleh pelajaran, memahami kebijaksanaan, dan menapaki tangga-tangga kemuliaan. Dan hidup inilah panggung sandiwara akbar untuk melihat siapa yang memerankan peran antagonis, siapa yang beruntung mendapatkan peran protagonis...

Kalau kita menerima premis yang menyatakan bahwa "hidup setelah mati adalah sesuatu yang pasti", maka tak akan terlalu sulit bagi kita untuk menerima kenyataan hidup bahwa ia (hidup) itu dipenuhi dengan berbagai kesulitan. Maka, seyogyanya, ketika kita mendapati bahwa "hidup itu sulit", kita pun memahaminya dengan sebuah alasan: "karena hidup adalah ujian". Celakanya, masih ada saja orang-orang yang sakit, yang menolak memahami hal ini, karena pikiran dan hatinya telah dipenuhi berbagai nafsu yang mendorongnya untuk hanya menjalani kehidupan "yang enak-enak saja"... Walhasil, ketika sedikit kesulitan menerpa, kita melihat orang-orang ini begitu sering mengeluh, begitu cepat bermuram durja, begitu gandrung untuk mencari berbagai 'pelarian' ataupun 'jalan pintas' atas berbagai masalahnya...

Saya setuju bahwa DISIPLIN adalah kekuatan dasar yang harus kita miliki untuk berhadapan dengan berbagai jenis masalah... Tanpanya, semua usaha akan terlihat sia-sia dan tak bermakna... Namun, saya rasa penulis kurang memasukkan unsur transedental/spiritual dalam pembahasan ini. Yakni bahwa setiap orang yang beragama (beriman) meyakini bahwa ada "hari esok", hari untuk mendapatkan pembalasan (entah berupa "punishment" or "reward") atas semua yang telah kita lakukan di dunia. Bahwa pada awalnya, nenek moyang manusia (Adam dan Hawa) diturunkan dari surga yang indah dan penuh kenikmatan hanya karena berbuat satu kesalahan --atau, saya lebih mau menyebutnya, "hanya karena gagal melalui satu kesulitan".

Maka sepantasnyalah kita memandang "masalah" sebagai 'bukan masalah' (Problem?? No problemo!). Dengan demikian, masalah bukanlah sesuatu yang dianggap TABU ataupun begitu MENAKUTKAN... Masalah adalah "peluang", "kesempatan" dan "ajang" untuk mengungkap jati diri sejati kita --apakah kita termasuk "pemenang" ataukah "pecundang"?-- untuk mengetahui sampai dimana tingkat kesadaran dan kebijaksanaan kita, dan untuk mengukur dan menentukan sendiri "derajat" kemuliaan kita di antara sesama manusia dan di Mata-Nya.

Maha Suci ALLAH yang berbelas abad yang lalu telah menggariskan konsepsi yang serupa dengan yang dinyatakan oleh M. Scott Peck ini. Di dalam Al-Qur'an surah Al-Insyirah (Kelapangan/Kemudahan) disebutkan dengan gamblang bahwa :


"DAN SESUNGGUHNYA BERSAMA KESULITAN
ADA KEMUDAHAN. SESUNGGUHNYA DI BALIK KESULITAN ITU
ADA KEMUDAHAN".

Bukan main! Ayat tersebut sudah menunjukkan kepada kita bahwa "kesulitan" itu memang harus dihadapi, dan ketika kita menghadapinya, niscaya yang kita dapatkan adalah jawaban (kemudahan/jalan keluar) dari masalah tersebut. Ada fakta yang menarik memerhatikan susunan kalimat ayat itu.

Pertama, kalimat :
SESUNGGUHNYA BERSAMA KESULITAN ADA KEMUDAHAN diulang sebanyak dua kali. Adanya unsur pengulangan ini menyiratkan bahwa yang namanya kesulitan pasti akan silih berganti dan berulang-ulang "menyapa" hari-hari kita. Jika sesuatu itu disebut berulang kali, tentunya hal yang diulang-ulang itu adalah hal yang penting untuk diperhatikan. Dan ketika masalah "kesulitan" ini ditekankan secara berulang, maka sepertinya kita harus menyadari bahwa perkara "kesulitan/masalah hidup" sejatinya adalah perkara yang amat sangat penting dalam perjalanan hidup manusia...

Kedua, mendahulukan menyebut kata "kesulitan" (baca: masalah) daripada kata "kemudahan" sebagai lawannya. Agak aneh melihat hal ini, sebab, sependek pengetahuan saya, Al-Qur'an adalah salah satu kitab yang "sangat optimistis" (contoh: kabar tentang orang-orang beriman/beruntung senantiasa didahulukan dari golongan lawannya, perkara kebaikan selalu diutamakan disebutkan sebelum perkara keburukani). Al Qur'an bisa saja berkata: "Kemudahan selalu menyertai kesulitan", "kemudahan selalu ada di balik kesulitan"... toh artinya sama saja, bukan?? Namun, di sinilah saya sepertinya menemukan satu lagi bentuk ke-mukjizat-an kitab suci Al Qur'an: bahwa ia memberikan kita satu rahasia... Dan rahasia itu adalah bahwa: kita tidak akan pernah memperoleh kemudahan/jalan keluar dalam bentuk apapun sebelum kita melalui (menghadapi) masalah tersebut. Intinya, "masalah ada untuk dihadapi, bukan untuk diratapi, bukan untuk 'dicueki'...". Wah, kembali mengaitkan persepsi ini dengan konsepsi mister M. Scott Peck sebagaimana dalam 'ulasan buku' di atas akan menunjukkan kepada kita keserupaan-pandangannya...

Ketiga, "the last but not least", Al Qur'an --khususnya dalam surah Al-Insyirah-- mengajarkan kepada kita untuk senantiasa POSITIVE THINKING... Lihatlah, surah ini dinamai surah "kelapangan/kemudahan", bukan dinamai dengan surah "kesempitan/kesulitan" --padahal isinya bercerita tentang dua hal tersebut. Inilah satu lagi karakter sejati kitab suci ini, yang menjadi pandu bagi orang-orang yang menjaga kalbu, bahwa ia memberikan kita motivasi/inspirasi dengan "perkataan yang baik". Dan perkataan manakah yang lebih baik daripada perkataan yang menyiratkan OPTIMISME maupun POSITIVE THINKING???

Well, Anda tentu belum puas dengan kolaborasi tulisan ini... Saya pun belum puas.. Saya baru memulai perjalanan untuk membaca, menekuri, dan memelajari kandungan di dalam buku TRLT tersebut. Jika Anda adalah orang yang peduli dengan diri sendiri, dan dengan masa depan yang akan disongsong nanti, saya sarankan Anda untuk ikut membaca buku berharga ini. *Maaf, bukan titipan pesan sponsor lho... :D

Setidaknya, saya masih harus membuktikan pujian yang dialamatkan pada buku TRLT ini :

"Buku ini seperti magnet spontan untuk menumbuhkan kebahagiaan sejati".
~The Washington Post~

"Barangkali tidak ada buku pada generasi sekarang ini yang mampu memberikan dampak yang begitu besar seperti The Road Less Travelled. Singkatnya, buku ini sebanding dengan Think & Grow Rich karya Napoleon Hill karena banyak buku psikologi generasi sekarang mengutip
The Road Less Travelled".

Membaca komentar kedua ini, membuat saya agak tergelitik oleh dua hal. Pertama, Buku ini disebut-sebut sejajar (sebanding) dengan "Think & Grow Rich"nya Napoleon Hill. Saya bertanya-tanya, seperti (atau, sebagus) apa gerangan buku Napoleon Hill itu??? Sebab, meski tahu ada buku itu, saya belum sempat (baca: mau) untuk membacanya... Dan kedua, dikatakan buku (TRLT) ini banyak dikutip dimana-mana. Dari sini saya menjadi penasaran, kira-kira, perkataan M. Scott Peck yang saya kutip dari buku TRLT itu ada di bagian mana yaa??

Anda mau tahu apa kutipan yang saya ambil dan masukkan dalam tulisan saya dulu??
Perkataannya kurang lebih seperti ini --semoga saya tidak terlalu lupa:

"Masalah besar yang menimpa seseorang manusia (ataupun, sebuah bangsa) ialah berfikir secara sempit/parsial. Bahkan [bisa jadi] kegagalan untuk berfikir sama sekali. Inilah akar masalah dari berbagai masalah yang kita hadapi."

Kurang lebih seperti itu kutipannya... Well, saya tidak mau mengecewakan diri sendiri...
Saya ingin terus melanjutkan membaca dan menyerap saripati ilmu dan intisari kebijaksanaan yang dikandung buku TRLT ini..

Semoga setelah habis melahapnya, akan ada kesadaran baru, yang berujung pada perubahan perilaku (menjadi lebih baik), perbaikan pola hidup, dan di atas segalanya --seperti yang buku ini janjikan-- mampu "menyulap Anda menjadi pribadi yang menakjubkan sekaligus mengantarkan Anda menuju kedamaian dan kesempurnaan hidup". Terlalu ambisius dan klise kedengarannya, memang... Namun, ahh, aku tak ambil pusing... Ini toh bukan masalah bagiku...

Remember: "PROBLEM?? NO PROBLEMO!!"... :D

Salam Perubahan demi Perbaikan...


Mutiara Qolbu (KH Abdullah Gymnastiar)

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui." (Q.S : Al-Ankabuut (29):64)
Saudaraku yang budiman, bagi seorang yang emosional. Dia tidak bijak terhadap kekurangan dan kesalahan orang lain. Terkadang tercuri waktu, pikiran dan dongkol sehingga habis energi positif kita, hanya karena kita menyikapi kesalahan orang dengan emosional.
tidak ada satu pun yang terjadi, yang terekam oleh kita, kecuali sarat dengan hikmah dan kita bisa belajar banyak justru dari orang yang berbuat kurang dan salah, agar kita tidak terjerumus dalam kekurangan dan kesalahan yang sama
bergaul dengan manusia memiliki seni tersendiri, kita beri rumus 2B2L. B yang pertama, bijak terhadap kekurangan dan kesalahan orang lain. B yang kedua, berani mengakui kelebihan dan jasa orang lain. L lupakan jasa dan kebaikan diri. L selanjutnya, lihat kekurangan dan kesalahan diri
dendam merupakan buah dari hati yang terluka, tersakiti, teraniaya atau yang terambil haknya. Wujud dendam yang paling konkret adalah kemarahan. Sesorang meluapkan amarahnya karena tidak suka melihat orang yang dia benci mendapat kesenangan. Dia lebih suka melihat orang tersebut sengsara, melebihi dirinya
Jikalau ada orang yang mendengki pada kita, balaslah kedengkian dengan memperbaiki diri, balaslah kedengkian orang lain dengan terus menerus berprestasi dan evaluasi diri.
orang yang sistematis bercermin, membuat penampilannya selalu prima. Sayang kalau orang hanya bercermin topeng saja, padahal yang membuat seseorang dicintai, kalau orang bisa bercermin pribadi. Oleh karena itu, yang penting dalam kehidupan kita adalah lihat kekurangan diri, lihat kesalahan diri, sebelum kita melihat orang lain. Karena kegigihan kita memperbaiki orang lain, tanpa diawali kegigihan melihat kekurangn sendiri, maka tidak bisa merubah orang tanpa diawali merubah diri.

Orang yang bijaksana adalah orang yang bisa mengambil sikap yang paling utama antara yang utama. Dengan kata lain, seseorang bisa bijaksana, kalau dia gemar mencari ilmu yang luas, sehingga makin tahu apa yang terbaik, dan gemar pula mencari informasi yang memadai.

Anak-anak akan merasa betah di rumah, jikalau orang tuanya berakhlak baik, begitupun orang tua amat bangga jika sang anak berakhlak baik. Ternyata sudah menjadi perangkat di hati kita, selalu senang, hormat terhadap orang-orang yang berakhlak baik. Pertanyaannya, seperti apakah akhlak kita? Karena ternyata nilai ke- Islaman seseorang begitupula nilai ke- Imanan, seperti yang diajarkan Nabi kita, dapat dilihat dari akhlak seseorang

orang yang mengetahui rahasia di balik suatu kejadian. Datangnya suatu pujian itu akan membuatnya tambah malu, karena itu berarti Allah memperlihatkan sesuatu. Kalau kita mau jujur, sungguh tidak pantas dan tidak cocok pujian itu dialamatkan kepada kita, karena janganlah lekas terpana oleh pujian manusia

tanda-tanda pribadi yang tenang biasanya terlihat dari kemampuan berpikir jernih, kemampuan menghimpun informasi secara akurat, tindakan-tindakan yang selalu tepat, efektif, dan efesien.
Dalam mengambil keputusan, pribadi yang tenang selalu akan memberikan keputusan-keputusan adil, bijak lagi arif. Lebih dari itu, ketenangan akan meminimalisir segenap resiko.

Rasulullah SAW bersabda " Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya dan paling lemah lembut terhadap istrinya". ( H.R Tirmidzi dan An-Nasai ).
Suami paling baik ialah suami yang paling sanggup berkata pada istrinya, "Duhai istriku, saya hanyalah seorang manusia yang sedang belajar menemukan jalan hidup. Mungkin ada kelebihan karunia Allah yangharus kita syukuri, tapi pasti banyak kekurangan yang mungkin dengan kahadiranmu saya akan lebih baik. Duhai istriku, jikalau engkau mencintaiku, ingin menjadikan diriku pewaris surga, terus koreksilah suamimu ini agar bisa menjadi suami yang baik, agar bisa menjadi suami yang semakin bertanggung jawab".
Apabila sebuah rumah tangga mulai saling menasihati maka rumah tangga akan bagaikan cermin; akan membuat anggota keluarganya berpenampilan lebih baik, dan lebih baik lagi. Karena tidak pernah ada koreksi yang paling aman selain koreksi dari keluarga kita, karena dia adalah darah daging kita sendiri.
Seorang suami adalah pemimpin keluarga. Ia harus belajar terus menerus untuk mencari cara terbaik dalam memimpin rumah tangganya. Karena setiap hari, masalah yang dihadapi bertambah, tiap hari kebutuhan juga bertambah ,dan tiap hari potensi konflik ikut bertambah, Jadi, bagaimana mungkin bisa menyikapi segala yang bertambah tanpa kemampuan yang bertambah. Semakin tua, seharusnya semakin matang, semakin bijak. Sehingga ketika ia wafat, warisan terbesar bagi kelurga dan anak-anaknya adalah kebanggaan memiliki orang tua yang bijak. Yang mulia.
Adalah sebuah mimpi, jika orang tua yang menginginkan anak-anaknya menjadi lebih baik dari dirinya, namun mereka tidak menyadari kekurangan dan kesalahan sendiri. Sulit bagi kita untuk merubah orang lain sebelum kita gigih untuk merubah diri. Dan akan sulit merubah diri sebelum kita berani jujur untuk mengevaluasi kekurangan diri
Sedangkan seorang istri menurut risalah tersebut berkewajiban untuk :
1. Taat dan patuh kepada suami (H.R. Tirmidzi).
2. Melayani suami dengan sebaik-baiknya (H.R. Muttafaq ‘Alaih).
3. Menjaga rahasia suami (Q.S. An-Nisa’:34).
4. Tidak bepergian dan berpuasa tanpa izin suami (H.R. Bukhari Muslim).
5. Menjaga harta suami (H.R. Nasa’i).

“Matsalulladzii yadzkuru robbahu walladzii la yadzkuru robbahu,mitslal hayyi wal mayyit”(Shahihul Bukhari).
“Perumpamaan orang yang menyebut nama Tuhannya dan yang tidak menyebutnya,bagaikan orang yang hidup dan orang yang mati”
Ibnu Abdil Hadi dalam karyanya “Fadhlu La Haula Wa La Quwwata illa Billah” meriwayatkan salah satu hadits dari Ibnu Abbas RA:”Barangsiapa yang melafalkan bismillah,maka telah menyebut(mengingat) nama Allah,dan barangsiapa mengucapkan alhamdulillah,maka telah bersyukur kepadaNya,dan siapa yang berkata Allahu Akbar,maka telah mengagungkan kebesaranNya,dan barangsiapa melisankan La haula wa la quwwata illa billah,maka ia telah berislam dan berserah diri sepenuhnya,dan itu merupakan kekayaan yang paling berharga dari berbagai kekayaan di surga.
Masya Allah, andaikan hati kian bersih tentu akan nikmat sekali menjalani hidup ini. Kalau hati kita ini bersih dan sehat, maka pikiran pun bisa menjadi cerdas. Kenapa? Karena tidak ada waktu untuk berpikir licik, dengki atau keinginan untuk menjatuhkan orang lain. Sebab, kalau tidak hati-hati benar maka hidup kita itu sangat melelahkan. Sekali saja kita tidak suka kepada seseorang, maka lambat laun kebencian itu akan memakan waktu, produktivitas dan memakan kebahagiaan kita, kita akan lelah memikirkan orang yang kita benci.
Hidupkan hati dengan memperbanyak ilmu, memperbanyak ibadah, dan zikir. Ladang untuk berkarya teramat luas, hiduplah dengan menjaga kebersihan hati, insya Allah hidup ini menjadi lebih indah dan penuh makna.
Terjadinya persoalan dalam hidup kita adalah kalau kita membesar-besarkan makhluk dan mengecilkan Allah.Ketika atasan dianggap sebagai pemberi rejeki maka terjadilah bawahan menjilat atasan, ketika pembeli dianggap sebagai pemberi rejeki akhirnya justru pedagang ditipu pembeli,ketika suami dianggap sebagai jalan kebahagiaan akibatnya bergantung kepada suami.
Kalau kita yakin Allah akan mencukupi maka pasti cukup,karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya, inilah sebenarnya yang berharga . Banyak orang yang tidak pernah mau berlatih , puas hanya dengan jaminan dari Allah , selebihnya kecewa.
Rejeki tidak selalu identik dengan makanan, uang , pujian tetapi kesabaran juga rejeki Subhanalloh.Jadi orang yang banyak rejeki jangan dihitung dari orang yang banyak tabungannya , karena tabungan itu dilihat tidak dipegang tidak, rejeki itu adalah bagaimana Allah membimbing kita supaya kita dekat dengan Allah
Allah itu menciptakan kita , dan kita tidak dapat melihat Allah yang sebenarnya, karena yang kita tahu hanyalah makhluk dan makhluk itu lemah , mata kita tidak bisa melihat Allah karena mata ini sangat lemah , melihat jauh saja tidak sanggup , sangat dekat pun tidak kelihatan. Kita bahkan tidak tahu alis kita yang sebenarnya , bulu mata, hidung, yang terdekat dengan mata saja tidak pernah terlihat, pendengaran kita juga lemah, kita tidak bisa mendengar semuanya, frekuensi yang lebih tinggi ataupun lebih rendah dari kemampuan pendengaran kita,suhu untuk tubuh kita juga terbatas andaikata diberikan suhu yang lebih tinggi ataupun lebih rendah tentu tidak akan sanggup kita menahannya.Jadi bagaimana mungkin makhluk yang lemah bisa melihat Allah Yang Maha Sempurna,oleh karena itu Allah menciptakan qolbu dan hati inilah sebenarnya yang bisa merasakan kehadiran Allah SWT sepanjang hatinya bersih , andaikata hati kita bersih dapat kita rasakan Allah Yang Maha Menatap, Allah menggenggam langit, Allah menciptakan semuanya agar kita berpikir,Afalaa tatafakkaruun
Sesungguhnya setiap insan rugi, tambah hari tambah rugi , tambah tua tambah rugi, tambah umur tambah rugi kecuali orang yang tiap hari berjuang sekuat tenaga agar makin kokoh imannya, makin mantap keyakinanya, karena jika hidup tanpa diiringi kekokohan iman, amal apapun tidak akan betul niatnya.

Memang orang yang lemah,orang yang sombong , orang-orang yang penuh kebencian itu tidak pernah tahan terhadap kritik, jika ada yang mengkoreksi maka dirinya sibuk untuk membela diri, sibuk untuk berpikir dan sibuk untuk membalas, ketahuilah bahwa orang yang demikian itu tidak akan bisa maju

Orang yang kokoh dan kuat itu bukan orang yang sibuk memberikan alasan ketika dia dikritik, karena jika tidak hati-hati alasan itu justru memperjelas kesalahan.Dari pada kita sibuk menyerang orang lain dan membela diri, sebaik-baik jawaban atas kritik dan koreksi adalah dengan memperbaiki diri.Orang lain sibuk mencari kejelekan kita, tetapi kita justru sibuk memperbaiki kejelekan kita.

kalau kita berubah,..... jangan pernah lupa untuk menyebut jasa orang yang pernah merubah kita sehingga kesuksesan ini harus jadi kebahagiaan dan kesuksesan bagi orang lain.
Yang paling penting dari suatu nasehat, kritik dan koreksi itu adalah niat yang mendasarinya. Kalau didasari niat ingin menjatuhkan ,koreksi itu hanya akan menjadi pisau atau panah beracun.Harusnya nasehat kita itu dilandasi dengan rasa kasih sayang dan persaudaraan.
ada suatu tradisi yang sangat ringan tetapi bisa mencairkan kebekuan dan menghangatkan suasana yaitu tradisi senang menyapa. Aneh sekali, kadang-kadang kita membiarkan hidup dalam penjara kekakuan ,itu terlihat ketika kita tidak menyapa kiri dan kanan kita, tetapi.... Subhanalloh, ketika sudah disapa tiba-tiba benteng itu seakan-akan rubuh. Bergaul menjadi nyaman,bersikap menjadi enak, saling tolong menolong menjadi mudah
Kenapa orang tersinggung ? orang tersinggung karena menilai dirinya lebih dari kenyataan , merasa pintar, merasa berjasa, merasa soleh, merasa tampan, merasa sukses, setiap kali kita terus menilai diri kita lebih dari kenyataan bila ada yang menilai kurang sedikit saja ,……..langsung akan tersinggung. Jadi memang ada sesuatu yang harus kita perbaiki yaitu proporsional menilai diri , kita biasanya membuka peluang tersinggung karena kita salah dalam menilai diri kita.

(di Intisarikan dari Ceramah AAGym)

Sunday, February 28, 2010

Fiqh Hak Cipta

Aji Hermawan
 
Hi,
Berikut ini sekedar tulisan saya yang menjiplak dari beberapa sumber yang terbatas tentang pandangan hukum Islam dalam intellectual property rights (IPR). Karena masalah ini sering ditanyakan dan diperdebatkan, terutama berkaitan dengan pembajakan software, saya mencoba melihat masalah ini dalam perspektif agama Islam. Maksudnya, Islam dalam perspektif saya pribadi, tanpa bermaksud mengatas namakan bahwa beginilah menurut Islam. Oleh karena itu segala kesalahan dan kekurangan yang ada di dalamnya adalah tanggung jawab pribadi. Oleh karena itu silakan dibantah, didebat, dan dikritisi.
Mohon maaf, bagi rekan yang beragama lain, bukan bermaksud untuk membicarakan yang khusus dalam forum bersama ini, topik ini bisa dijadikan topik bersama tanpa melihat latar belakang agama. Anggap saja ini cetusan dari seseorang dalam kacamata agamanya, dan silakan kalau rekan-rekan juga menambahkan dari perspektif yang lain, perspektif apa saja.
Secara ringkas tulisan ini mulai dari menguraikan hukum mencuri di dalam Islam, masalah hak-hak yang diatur di dalam Islam, apakah IPR termasuk dalam kategori mencuri, dan berbagai perdebatan tentang kemaslahatan IPR.
Salam
Aji Hermawan

FIQH 'INTELLECTUAL PROPERTY RIGHTS'

Saat ini pembajakan perangkat lunak, patent, lisensi, dan lain-lain merupakan salah satu masalah yang sering menjadi perdebatan. Apakah pembajakan terhadap apa yang sekarang ini disebut sebagai 'intellectual property rights' (IPR) merupakan tindak pidana pencurian di dalam hukum Islam? Tulisan ini mencoba untuk mencoba menjawab masalah tersebut dengan mengutip dari beberapa sumber. Karena saya bukan ahli hukum Islam, tulisan ini sangat terbuka dan perlu untuk dibantah dan dikritisi oleh siapa saja.
Secara ringkas tulisan ini menguraikan hukum mencuri di dalam Islam, masalah hak-hak yang diatur di dalam Islam, kedudukan IPR dalam hukum Islam, dan berbagai perdebatan tentang kemaslahatan IPR.

Hukum mencuri

Di dalam Islam, hukum mencuri ditegaskan di dalam Al-Quran:
'Laki-laki yang mencuri dan peempuan yang mencuri, potonglah kedua tangannya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Allah Maha Perkasan dan Maha Bijaksana' (Q.S. Al Maidah (5) : 38 ).
Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda tentang bahaya mencuri bagi suatu masyarakat dan ketegasan hukumnya:
'Demi Allah! Kalau sekiranya Fatimah binti Muhammad yang mencuri, pasti akan kupotong tangannya.' (Riwayat Bukhari)
Ketegasan aturan mengenai 'mencuri' ini menunjukkan pengakuan Islam akan hak milik, perlindungannya, dan mengatur perpindahannya secara adil. (Tulisan ini tidak akan membahas apakah format hukum potong tangan harus dilakukan sekarang). Di dalam Islam, mencuri bukan hanya dianggap merugikan orang yang dicuri secara individual, tapi juga secara sosial masyarakat luas, sebuah bangsa, atau kemanusiaan itu sendiri. Bahkan secara vertical mencuri itu juga termasuk men-dholimi Allah SWT.
Hukuman potong tangan, yang sering dipandang sebagai tidak manusiawi bagi yang menentangnya atau sebagai hukuman yang serta merta dijalankan apa adanya bagi pendukung literalnya, pada prakteknya tidaklah dilakukan tanpa konteks. Para ahli hukum Islam sering mencontoh kisah yang terjadi dalam masa khalifah kedua Umar bin Khaththab yang tidak menghukum pencuri tapi justru mengancam akan menghukum yang dicuri atau tuan sang pencuri.
Misalnya, dikisahkan ketika suatu ketika terjadi paceklik, ada kasus pencurian yang dilaporkan kepada Umar untuk dihukum, tetapi Umar menolak menghukumnya, alasannya karena musim paceklik mungkin orang itu terpaksa mencuri karena takut mati kelaparan. Sebaliknya Umar malah pernah mengancam, "Kalau kamu terus menerus melaporkan pencuri hartamu padahal kamu kaya, malah nanti tangan kamu yang akan saya potong, karena kamu yang menjadi sebab orang ini lapar." Dalam kisah lain disebutkan ada dua orang hamba sahaja yang mencuri dari tuannya karena tidak diberi makanan yang cukup, Umar tidak menghukumnya, tapi justru mengancam akan memotong tangan tuannya. . Kisah serupa juga bisa didapati pada suatu kisah ketika beberapa budak milik Hathib bin Abi Balta'ah mencuri seekor unta kepunyaan tetangga, dan menyembelihnya. Umar bin Khattab menerima pengaduan tetapi tidak segera menjatuhkan hukuman melainkan lebih dahulu bertanya kepada budak-budak itu tentang sebab-musabab mengapa sampai mencuri. Ternyata mereka benar-benar terpaksa untuk mengisi perut karena ditelantarkan oleh majikannya. Umar benar-benar marah, Hathib segera dipanggil dan dipaksanya untuk mengganti unta yang dicuri budak-budaknya. Sementara budak-budak itu sendiri ia bebaskan dari segala tuntutan.
Ini menunjukkan bahwa dalam pelaksanaannya hukum itu melihat konteks atau pre-kondisinya. Setiap keputusan hukum memiliki apa yg disebut sbg 'illat (sebab, rasio-logis tentang kenapa hukum itu ditetapkan). Jadi kalau pre-kondisinya tidak terpenuhi maka hukum itu tidak bisa dijalankan.
Bahkan lebih jauh lagi, Yusuf Qardhawi dalam bukunya Malaamihu Al Mujtama' Al Muslim Alladzi Nasyuduh (ditermahkan dalam Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur'an & Sunnah), berpendapat bahwa pelaksanaan hukum Islam sebenarnya cenderung untuk menutupi dan memaafkan hukuman sebagaimana dikenal dalam kaidah popular "Dar'ul Hudud bisy-syubahaat", yang artinya menolak hukuman dengan adanya syubuhat (kemungkinan-kemungkinan untuk membatalkan). Ada sebuah hadist yang berbunyi:
"Tolaklah hudud itu dari kaum Muslimin semampu kamu, jika kamu mendapatkan jalan keluar untuk seorang Muslim maka lepaskanlah jalannya, sesungguhnya apabila seorang imam salah dalam memaafkan, itu lebih baik daripada salah dalam menghukum." (HR. Hakim)
Hadist ini diperkuat dengan hadist : "Tolaklah hudud itu dengan syubuhat."
Kasus pembebasan pencuri oleh Umar, menurut Qardhawi menunjukkan penerapan hal ini. Ini bukan bentuk mengugurkan hukuman tapi karena pre-kondisinya belum wajib untuk diterapkannya hukum itu. Seperti tidak wajibnya suatu perintah karena sebelum memenuhi seluruh rukun dan syaratnya.

Hak Milik Intelektual

Setelah sekilas kita membahas hukum mencuri, kita perlu membahas apa yang dimaksud dengan hak di dalam Islam. Berikut ini pandangan tentang hak Mustofa Zarqa' (dikutip, diringkas, dan diolah dari Pesantren Virtual: http://www.pesantrenvirtual.com). Hak didefnisikan sebagai "kekhususan yang diakui oleh syariat Islam, baik itu berupa otoritas atau pembebanan".
Dengan demkian ini mencakup antara lain
  1. Hak Allah yang dibebankan kepada hambanya, seperti shalat, puasa dan zakat;
  2. Hak sipil/privat seperti hak untuk memiliki atas benda
  3. Hak sosial, seperti hak orang tua kepada anak dan hak suami terhadap isteri;
  4. Hak publik, seperti kewajiban negara untuk melindungi rakyatnya;
  5. Hak yang berkaitan dengan harta seperti nafkah;
  6. Hak yang berkaitan dengan otoritas seperti perwalian
  7. Hak asasi yang mencakup hak untuk hidup bebas, dll.
Hukum Islam dalam kaitannya dengan hak, menetapkan langkah-langkah hukum sebagai berikut:
  1. Memberikan hak kepada yang berhak. Misalnya zakat harus diberikan oleh mereka yang berkewajiban kepada yang berhak. Sholat wajib dlakukan oleh mereka yg berkewajiban, ditujukan kepada Allah, dlsb.
  2. Melindungi Hak. Syariat Islam memberikan perlindungan hak dari segala bentuk penganiayaan, kecurangan, penyalahgunaan dan perampasan sepuluh abad sebelum deklarasi Hak Asasi Manusia. Perlindungan hak yang diberikan berupa perlindungan: jiwa (nyawa/fisik), akal, harta, nasab/keturunan, dan agama, atau yang biasa disebut maqaashid al-syariah al-khomsah. Imam Ghozali menambahkan hak untuk tidak dirusak kehormatannya (detailnya bisa dilihat pada buku Syathibiy 'Al-Muwafaqat').
  3. Menggunakan hak dengan cara yang sah dan benar. Setiap manusia diberi wewenang menngunakan haknya sesuai dengan yang diperintahkan dan diizinkan oleh syariat namun dalam menngunakan haknya tidak boleh melapaui batas dan tidak boleh menimbulkan kerugian padapihak lain, baik yang sifatnya personal maupun publik.
  4. Menjamin perpindahan hak dengan cara benar dan sah. Hukum Islam melindungi perpindahan hak melalui prosedur dan cara yang benar, baik itu melalui transaksi seperti jual beli, atau pelimpahan seperti dalam kasus jaminan hutang atau hak yang berkaitan dengan wewenang, atau berpindahnya hak perwalian dari orang tua ke anak sepeninggalan orang tua.
  5. Menjamin hangus/terhentinya hak dengan cara benar dan sah Hukum Islam melindungi hangusnya hak, atau terhentinya hak melalui prosedur dan cara yang sah, misalnya hangusnya hak suami isteri melalui perceraian atau pengguguran hak secara sukarela, seperti tidak menggunakan hak menuntut ganti rugi.
Setelah melihat jenis dan aturan mengenai hak lalu dimanakah letak hak milik intelektual. Apakah hak milik intelektual ini bisa disamakan dengan maal (harta) dan mengikuti hukum-hukum tentang harta. Tampaknya masalah ini adalah masalah yang relatif baru bahkan dalam dunia modern masalah ini adalah juga bukan masalah yang final. Bahkan masalah ini setiap kali muncul dalam forum-forum yang membicarakan perdagangan internasional, seperti di WTO (World Trade Organization).
Di dalam hukum Islam, karena tidak adanya dalil yang ekplisit yang membahasnya, maka sumber hukum yang digunakan biasanya adalah adalah maslahah mursalah (kemaslahatan umum), yaitu bahwa setiap sesuatu atau tindakan yang sesuai dengan tujuan syariat Islam, dan mempunyai nilai mendatangkan kebaikan dan menghilangkan kerusakan, hukumnya harus ditegakkan. Dengan kata lain, hukum harus diterapkan untuk memaksimumkan kebaikan dan meminimumkan kerugian bagi masyarakat.
Ketika kita berbicara 'kemaslahatan umum' maka mau tak mau kita bersentuhan dengan berbagai macam pandangan dalam apa yang disebut sekarang ini sebagai ilmu-ilmu sosial. Misalnya dalam ekonomi, kemaslahatan umum dalam kacamata ekonom neo-liberalist akan sangat berbeda dengan kemaslahatan umum menurut kelompok neo-Marxist. Bagaimana kemashlahatan umum menurut Islam? Karena ini sudah di luar atau tidak eksplisit dalam nash (dalil-dalil Quran dan Hadist), maka kita akan kesulitan menemukan pendapat yang agak definitive di dalam Islam. Kalau kita tidak bisa menemukan secara 'teoritis' pandangan Islam mengenai hal ini maka kita bisa menarik ke level yang lebih tinggi yaitu 'filsafat sosial Islam'. Namun kita juga akan keteteran mencarinya.
Yang mungkin terpenting agar kita bisa dengan mudah mengajukan 'pandangan Islami' atas berbagai fenomena social adaah mengembangkan 'Epistemologi atau paradigma Islam'. Dengan paradigma inilah kita bisa membedah setiap persoalan yang muncul dengan pisau yang sama. Masalahnya kita juga akan kesulitan menemukan itu. Ini adalah suatu PARADOX BESAR di dalam pemikiran Islam. Dimana kita sering mendengar teriakan-teriakan adanya perang pemikiran atau 'qhazwul fikr', padahal kalau kita masuk ke medan pertempuran itu kita tidak akan menemukan 'pemikiran Islam' yang sedang ikut berperang.
Agar tidak panjang-panjang membahasanya ke yang lebih rumit, kita balik saja lagi membahas pemikiran-pemikiran yang sudah ada tentang hak milik intelektual dilihat dari sudut kemaslahatan umum (dengan kacamata yg sudah ada saja).
Pendapat pertama, menyatakan bahwa hak milik intelektual (Intellectual Property Rights - IPR) itu harus dilindungi karena merupakan prasyarat inovasi dan pembangunan. Kalau tidak dilindungi maka orang akan malas menemukan sesuatu akibatnya inovasi terhambat, dan ujung-ujungnya kira-kira pembangunan akan terhambat pula. Kemakmuran bangsa akan berkurang dan ini jelas merugikan. Seorang penemu juga telah menginvestasikan waktu, tenaga, uang, dan sumberdaya lainnya, sehingga sangat pantas apabila apa yang sudah dikeluarkan itu dihargai.
Jika kita sepakat dalam pandangan ini, maka pencurian terhadap hak milik intelektual sama saja dengan pencurian terhadap hak-hak lain yang dilindungi. Islam jelas melarang tindakan zalim suatu pihak terhadap pihak lain.
Pendapat kedua, menyatakan bahwa hak milik intelektual ini justru merugikan kepentingan publik (kemaslahatan umum) karena akan semakin memperkecil hak-hak publik menjadi hak-hak private (individu atau perusahaan).
Pendapat yang menarik bisa dilihat pada tulisan George Monbiot, di Guardian, tanggal 12 Maret 2002, yg berjudul 'Patent Nonsense'. (akan saya forward). Dari tulisan itu kita bisa memahami bahwa rejim patent hanya menguntungkan segelintir perusahaan swasta bukan masyarakat umum. Dibuktikan pula melalui analisis sejarah ekonomi Erich Schiff, bahwa tidak benar bahwa kalau patent tidak dilindungi maka inovasi akan terhambat. Dicontohkan bahwa Swiss dan Belanda, adalah dua negara yang dalam sejarahnya tidak mau menerapkan undang-undang patent, banyak industrinya yang mencuri patent, namun justru saat itulah berkembang penemuan-penemuan dan perusahaan-perusahaan besar dari sana. Beberapa perusahaan Swiss seperti Nestle dan Ciba; juga perusahaan Belanda seperti Unilever dan Philips, adalah perusahaan yang tumbuh karena 'berkah' mencuri patent atau tidak adanya aturan patent itu. Namun perusahaan-perusahaan itu sekarang berbalik melakukan lobby-lobby untuk memperketat aturan patent.
Kalau kita mengikuti pendapat kedua ini, maka kita akan melihat betapa justru perlindungan hak milik intelektual ini justru akan merugikan masyarakat luas. Kalau merugikan, maka Islam justru harus membuat aturan akan kerugian masyarakat ini minimal.
Tarik menarik di antara dua kubu inilah, paling tidak, bisa memberi gambaran kepada kita bagaimana kita bisa pintar-pintar mengambil keputusan.
Kalau dikembalikan kepada hukum Islam maka kita bisa memakai kaidah: "Idza Taa'radal Maslahatan, Quddima A'dlamu huma" yang maksudnya apabila terjadi dua maslahat yang bertentangan, maka ambillah yang memiliki kemaslahatan yang lebih besar. Masalahnya lagi, yang lebih besar menurut siapa?
Dalam stuktur masyarakat seperti sekarang ini, perusahaan-perusahaan besar terus akan berjuang untuk mempertahankan dominasi mereka demi kemaslahatan mereka sendiri. Negara-negara kuat akan terus mengkhotbahkan perdagangan bebas agar produk-produk negaranya bisa menorobos masuk ke seluruh penjuru dunia, sambil mereka menutup rapat pasar dalam negerinya dalam bentuk subsidi, tariff dan non tariff barriers. Contohnya Amerika mengenakan tariff impor yang tinggi terhadap impor kapas hanya utuk melindungi petani kapasnya yg jumlahnya tidak sampai 25.000. Kalau Amerika mau membuka impor pasar kapasnya, maka nilainya itu jauh lebih tinggi daripada bantuan Amerika ke SELURUH negara Afrika. Tapi ia lebih senang 'membantu' negara-negara miskin di Afrika dan memproteksi pasar kapasnya, sambil berkhotbah kemana-mana tentang pentingnya 'liberalisasi perdagangan dunia' untuk kemaslahatan bersama, termasuk satu paket di dalamnya adalah TRIPs (trade related intellectual property rights). Ini baru contoh dari satu komoditi saja.
Saya pribadi memandang barang/konsep seperti 'intellectual property rights' dan konco-konconya (globalisasi, privatisasi, desentralisasi, bahkan ilmu-ilmu ekonomi yang melandasinya) bukanlah barang/konsep yang netral. Minimal untuk bisa menganggap netral atau polos perlu kita lucuti dulu 'pakaian kebesarannya'.
Selanjutnya terserah kepada kita, apakah menganggap Nabi Muhammad yang kita jadikan suri tauladan itu diutus kedunia untuk membela kaum mustadh'afien atau membela para pebisnis yang terus mengakumulasi keuntungan. Dengan kata lain Nabi itu 'The Prophet of The Oppressed' atau 'The Prophet of Private Profit'?

Salam
Aji Hermawan

Tuesday, December 29, 2009

TUTUP TAHUN

Berapa banyak limpahan rizki dan karunia Alloh Tuhan Yang Maha Pemberi yang diterima oleh manusia....... Saking banyaknya limpahan itu..... manusia tidak lagi merasakan pemberian yang berlimpah itu sebagai nikmat lagi.....

Yang umumnya dirasakan manusia.... Bahwa yang disebut rizki itu hanya apa yang ada dalam genggamannya saja... Sikap seperti itu menyebabkan manusia menjadi lalai dan kufur nikmat... Orang yang kufur nikmat sangat sulit untuk melaksanakan perintah Alloh Tuhan Yang Maha Mengetahui...

Bagi Kita para orangtua dan mungkin akan terus menjadi tua pada akhirnya....

Mengenalkan dan menerangkan kepada anak-anak tentang berbagai macam nikmat dan karunia Alloh yang banyak dan besar itu... insya Allah akan menjadikan anak-anak pandai bersyukur dan mudah untuk menjalankan perintah Alloh.....






dikutip dari : Zakaria : Education Center
Modified by Admin
Reviews Software Free Download

findtoyou.com

How Speed U Are???